Unknown
saat seseorang mengajakmu berbicara...
mengutarakan perasaan...
dan mengharapkan saran atau pendapatmu...

kau akan menyadari bahwa cara pandang orang belum tentu sama denganmu...
jika kau bisa melihat lebih dalam...
kau akan mengerti bahwa menyikapi sesuatu haruslah sesuai dengan pribadi orang tersebut...
semua tidak bisa disamaratakan...
karena setiap orang kadang membutuhkan cara penyampaia berbeda untuk sesuatu hal yang sama...

bagian tersulitnya adalah bagaimana membuat orang mengerti tanpa melukai atau melambungkan perasaannya...
cara terbaik untuk mencari tahu cara tersebut adalah dengan memposisikan diri kita sebagai dirinya...
"jika aku adalah dia,......"
Unknown
kenapa sangat sulit untuk membuat sebuah komitmen?

contoh yang paling sepele adalah menjalani tugas kita sehari-hari...
saat kita sudah memutuskan sesuatu, harusnya kita siap dengan konsekuensinya..
tapi sangat sulit untuk menerima hal itu...

hari ini,kemalasan seperti biasa menang...
dalam logika atau pikiran ku,selalu berkata bahwa aku harus menjalani apa yang aku sudah putuskan...
tapi hati ku tak pernah mau untuk bergerak...

bagaimana mensingkronkan hati dan pikiran?

saat keduanya saling bertolak belakang, hati lah yang selalu menang...
jika logika kalah,semua rancangan akan gagal total...
dan selalu diakhiri dengan penyesalan...

namun jika logika selalu menang...
kadang kita akan menyakiti orang2 yang kita sayangi...

kadang ingin mengikuti arus air tanpa berpikir besok akan jadi apa dan seperti ap...
berkata 'y,sudahlah...' atau 'ga peduli'
tapi hidup hidup membutuhkan usaha...
setelah usaha, baru lah pasrah pada takdir Tuhan...
bukan menjalani tanpa pikir panjang...
hidup kadang harus spontan agar kita bisa menikmatinya...
tapi terlalu spontan akan menjadikan hidup sangat tidak teratur...
akan sangat egois jika menjalani hidup semau kita sendiri...
harus ada bagian dimana diri kita merupakan milik kita dan milik orang lain..

hidup seseorang, bukan merupakan hidupnya seutuhnya...
hidup nya milik Tuhan yang menciptakannya sehingga dia punya kewajiban untuk beribadah...
hidupnya milik orang tuanya sehingga dia punya kewajiban untukberbakti...
hidupnya milik orang lain sehingga diapunya kewajiban untuk saling membantu...

untuk menjalani semua kewajiban, logika dan perasaan mulai bermain...
yang jadi masalah adalah bagaimana menjadikan mereka partner kerja, bukan rival...